• Minggu, 23 Januari 2022

Heboh 12 Santri Ponpes di OKI Sumsel Dicabuli, Oknum Ustad Jadi Tersangka

- Jumat, 19 November 2021 | 14:11 WIB
IMG-20211119-WA0008
IMG-20211119-WA0008

Sumsel24.com Palembang - Sebanyak 12 orang santri pondok pesantren (Ponpes) di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan diduga menjadi korban pencabulan. Pelaku oknum ustad pengajar berinisial RP (19), ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. "Benar, tersangkanya ustad cabul atau oknum pengajar sudah kita amankan, terkait kasus pencabulan di salah pondok pesantren tersebut," kata Kapolres OKI, AKBP Dili Yanto dikonfirmasi Sumsel24, Jumat (19/11/2021). Dia mengatakan, 12 orang santri yang diduga dicabuli tersangka rata-rata berusia belasan tahun. Dari keterangan saksi dan alat bukti, diketahui sejauh ini ada 12 orang korban. "Berdasarkan penyelidikan, sejauh ini ada 12 santri yang menjadi korban, semuanya rata-rata berusia 11, 12 dan 13 tahun," katanya. Terungkapnya kasus ini, kata dia, berdasarkan laporan dari salah satu orangtua santri yang melaporkan bahwa anaknya telah menjadi korban pencabulan oleh guru atau ustad di ponpes tersebut. "Orangtua murid ini curiga anaknya mengeluh sakit di bagian intim. Setelah diselidiki korban mengaku telah menjadi korban pencabulan ustad atau gurunya sendiri," katanya. Berdasarkan informasi tersebut, polisi melakukan penyelidikan dan menangkap tersangka tanpa perlawanan pada, Rabu (17/11) sekitar pukul 17.00 WIB di pondok pesantren tersebut. "Berdasarkan penyelidikan, keterangan saksi dan barang bukti tersangka kita tangkap tanpa perlawanan di Ponpes tersebut," katanya. Menurutnya, dari hasil interogasi tersangka telah bekerja sebagai pengajar selama 4 bulan terakhir di Ponpes tersebut. Tersangka melakukan aksinya dengan modus melatih silat dan mengajak korban ke kamarnya. "Para korban ini dilatih silat oleh tersangka, setelah latihan korban diajak kedalam kamar tersangka. Dengan alasan menghukum, tersangka melakukan perbuatannya dan merekam aksi itu," ungkapnya. Kejadian itu dilakukan tersangka sejak Oktober 2021 dan baru terbongkar pada bulan November 2021. Hal itu karena tersangka mengancam korban, akan menyebar video rekaman tersebut. "Perbuatan itu dilakukan tersangka sejak Oktober hingga November. Semua korban juga diancam bakal disebarkan videonya kalau menceritakan pencabulan tersebut. Akibatnya, tersangka kini ditahan dan dijerat UU nomer 23 tahun 2002 pasal 55 ayat 1 tentang perlindungan anak, ancamannya 20 tahun karena tersangka merupakan seorang tenaga pengajar, sehingga ditambah sepertiga," jelasnya.(prm)

Editor: sumsel24

Terkini

X