• Minggu, 23 Januari 2022

Isu Cabul Viral, Surat Edaran Unsri soal UU ITE Kembali Gegerkan Warga Sumsel

- Selasa, 23 November 2021 | 16:19 WIB
InShot_20211123_161649093-compress1
InShot_20211123_161649093-compress1

Sumsel24.com Palembang - Maraknya isu dugaan tiga orang mahasiswi Universitas Sriwijaya (Unsri) menjadi korban pencabulan dosen menjadi sorotan berbagai pihak dan bekum menemui titik terang. Kini warganet kembali dihebohkan dengan surat edaran Rektorat Unsri terkait UU ITE yang beredar di media sosial. "Iya benar, itu (surat edaran) pak rektor yang teken (tandatangani)," kata Wakil Rektor 1, Zainudin dikonfirmasi Sumsel24, Selasa (23/11/2021). Dilihat, Selasa (23/11/2021), dalam unggahan itu terlampir surat edaran Nomor: 0017/UN9/SE.BUK.HT/2021 yang ditandatangani oleh Rektor Unsri, Anis Sageaff. Surat itu berisi tentang, Rektor Universitas Sriwijaya memerintahkan dekan untuk melakukan konsolidasi kedalam di masing-masing fakultas, jurusan, bagian sampai dengan prodi agar lebih berhati-hati menggunakan media sosial. "Abis rame tentang pelecehan seksual, terus langsung mengeluarkan Surat Edaran dan bawa-bawa UU ITE," tulis pengunggah. Ada 5 poin yang tertera dalam surat edaran tersebut yakni, Rektor Universitas Sriwijaya memerintahkan jajarannya agar  lebih berhati-hati menggunakan media sosial dalam hal dan untuk: 1. Tidak menggunakan kata-kata, gambar, video, dan lain-lain yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. 2. Tidak mudah menuduh, meneruskan (forward) berita-berita yang belum tentu kebenarannya dan tidak bermanfaat. 3. Tidak ikut mengomentari dan atau meneruskan terhadap berita-berita yang jelas-jelas tidak benar (hoax). 4. Selalu menjaga etika dalam berinteraksi dan berkomunikasi kepada siapapun. 5. Meminta kepada seluruh Dosen agar berkomunikasi dengan semua Civitas Akademika dan pihak lain dilakukan dengan baik dan sesuai dengan Tupoksi Tridarma. Dalam isi penutupan di surat tersebut, kelima poin itu harus dilaksanakan, karena semua itu melanggar aturan pedoman akademik, norma dan etika Unsri serta UU ITE No 19 Tahun 2016 yang dapat menimbulkan akibat hukum. Demikianlah surat edaran ini dikeluarkan untuk dipedomani dan dilaksanakan. Menanggapi surat edaran itu, pihak rektorat mengaku, hal itu merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan kampus yang aman dan nyaman. "Semua upaya untuk peningkatan layanan termasuk pelayanan dengan kondisi kampus yang aman dan nyaman kita lakukan," kata Zainudin. Terakhir Zainudin menyebut, pihaknya sudah memeriksa terduga pelaku beberapa hari yang lalu. Namun menurutnya, Unsri juga perlu mengambil keterangan secara langsung dari para terduga korban. "Sudah (dosen terduga pelaku diperiksa). Dan perlu dikonfirmasi juga mahasiswi nya, jadi dua-duanya harus didengar. Kita harus cari data yang benar," ungkapnya. Sebelumnya, Universitas Sriwijaya (Unsri) mengusut dugaan tiga orang mahasiswi menjadi korban pencabulan dosen. Unsri mengaku berhati-hati mengusut kasus ini. "Kita kan sudah punya peraturan tentang ini, dan kita akan bekerja sesuai dengan peraturan yang berlaku," kata Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Iwan Stia Budi, di Unsri, Palembang, Jumat (19/11/2021). "Salah satu upaya dari Unsri adalah membentuk panitia atau satgas guna mencari tahu lebih lanjut kebenaran informasi tersebut," jelasnya. Dia memastikan Unsri bakal mengusut kasus ini. Unsri, katanya, mengedepankan asas praduga tidak bersalah. Menurutnya, klarifikasi bakal dilakukan secara hati-hati. Dia mengatakan pemeriksaan bakal dilakukan hati-hati karena berkaitan dengan nama baik seseorang.(prm)

Editor: sumsel24

Terkini

X